Di Mana Nasionalisme? 2

Tepat seperti yang telah saya postingkan sebelumnya, ternyata masih banyak hal yang menunjukkan masih kurangnya nasionalisme di Indonesia. Untuk itu, dalam postingan ini, saya akan langsung membeberkan nama-nama orang yang secara keras saya kritik dan akan mengganti inisial dari nama-nama yang telah saya sebutkan dalam postingan sebelumnya dengan nama asli agar mereka dapat introspeksi.

Pada hari Sabtu, 16 Agustus 2008, kebetulan saya menonton acara Empat Mata (yang ini murni kebetulan karena tidak biasanya ada acara Empat Mata pada hari Sabtu), dan tema kali ini tentu saja kemerdekaan. Seperti biasa, beberapa artis ikut diundang. Ada hal yang kali ini benar-benar saya kritik mengenai kru ataupun penyusun acara Empat Mata. Kritik itu saya tempatkan pada sesi kuis dimana para artis tamu dibagi menjadi dua grup untuk saling adu cepat menjawab pertanyaan. Saya terkejut karena dalam salah satu pertanyaan, lagi-lagi keluar soal mengenai isi Pancasila. Dan seperti telah kutebak sebelumnya, mantan artis cilik Sherina tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Untunglah rekan setimnya, yaitu Amanda dan seorang lainnya mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan baik. Akan tetapi, bukannya malu atau setidaknya mendengarkan Amanda dan seorang rekan setimnya (maaf aku lupa namanya) menjawab isi dari Pancasila tersebut, Sherina malah mengganggu kedua rekannya dengan kata-kata “wah wah wah wah” ketika mereka sedang menjawab pertanyaan seolah itu adalah hal yang lucu.

Satu pertanyaan lain yang benar-benar keterlaluan adalah ketika keluar pertanyaan “apa yang terjadi selang waktu tahun 1825-1830?” Bagi yang tahu, tentu saja akan menjawab Perang Diponegoro. Dan bagi yang tidak tahu, saya tidak menyalahkan karena memang tidak banyak orang yang suka mengingat tanggal di masa lalu. Akan tetapi apa jawaban dari Empat Mata sendiri? Jawabannya adalah : Adzan Maghrib!!!!! Salahkah jawaban itu? Tidak, bahkan sangat benar!!! Akan tetapi, salah tempat!! Apa mereka tidak menyadari kalau Pangeran Diponegoro itu berjuang mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan Indonesia dan kini hasil perjuangan nyawanya itu mereka buat lelucon seperti ini? Apa mereka tidak merasa malu? Saya sangat menyukai tontonan reality show seperti ini, baik yang dalam negeri maupun luar negeri. Dan sepanjang pengetahuan saya, tidak pernah saya melihat reality show dari suatu negara yang menghina pejuang dari negerinya sendiri seperti ini!!! Saya ingat bahwa sang pembawa acara, yaitu Tukul Arwana pernah bilang bahwa siaran ini dapat disaksikan di seluruh dunia. Akan tetapi, menurut hemat saya daripada mempermalukan nama negara sendiri, lebih baik acara ini dihapus saja, atau tidak usah disimpan dalam situs video streaming. “Untunglah” bahasa nasional kita bahasa Indonesia, yang notabene tidak banyak yang mengerti bahasa kita jika bukan orang Indonesia sendiri. Bayangkan bila bahasa yang digunakan adalah bahasa inggris, dan banyak yang menyaksikan acara ini. Apa kata dunia???

Lalu satu hal lain yang saya kritik, dan yang ini benar-benar membuat saya terkejut. Saya sempat “asal” menulis dalam postingan sebelumnya “Apa mereka hapal isi lagu Indonesia Raya dengan lancar?”. Dan ternyata, musisi Indonesia Duo Maia pun tidak hafal lagu Indonesia Raya!!! Hal ini saya lihat dalam sebuah infotainment tepat pada tanggal 17 Agustus 2008. Saya tahu mereka musisi hebat yang mungkin mampu menghapal dan menyanyikan ratusan lagu dengan baik. Akan tetapi, mereka tidak menguasai lagu Indonesia Raya dengan baik. Ada apa ini?? Dan mereka dengan lantangnya berkata bahwa mereka telah meneruskan perjuangan para pendahulu di bidang musik?? Apa yang mereka sumbangkan untuk negara ini dengan lagu cinta tidak jelas seperti “Lelaki Buaya Darat” dan “Teman Tapi Mesra”???

Aku harap postingan kali ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk lebih memahami arti nasionalisme. Bila tidak, apa kata dunia????

6 Comments »

  1. 1
    nortbird Says:

    “apa yang terjadi selang waktu TAHUN 1825-1830?”

    Vin, kl pertanyaannya itu, jawabannya harus Perang Diponegoro, tapi kl pertanyaannya “apa yang terjadi selang waktu 1825-1830?”, jawabannya bisa macem2..

  2. 2
    chanchan88 Says:

    Kadang orang ga tau batas bercandaan, sometimes me… Merdeka!

  3. 3
    Ivan Says:

    Parah bgt 😦
    Untung ga nonton waktu itu… Pasti nyebelin

  4. 4
    Ark Says:

    Benar-benar kacau infotainment kita, klo begini, gmn kita bisa percaya bahwa mereka akan lebih bermoral dan nasionalis tanpa adanya LSI(Lembaga Sensor indonesia), benar kata bang Alvin, mereka sebenarnya blom berkontribusi pada negara(minimal secara moral dan ahklaq), karena mereka hanya berpikir gmn supaya dapat uang yang banyak tanpa memikirkan efek dari konten yg mereka berikan.

  5. 5

    bukannya nasionalisme munculnya cuma saat pertandingan badminton ya?? atau sepakbola?? (satire mode : on)

  6. 6
    alvinsusanto Says:

    @dhifa : wah kalo di sepakbola mah yang nasionalisme cuma pendukung persija alias jak-mania…

    Rasanya dulu waktu persib kalah waktu ujicoba lawan timnas aja bus timnas dilemparin


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: